Menjaga Negeri dari Kekurangan: Jalan Sunyi Mentan Amran Mengawal Pangan di Masa Sulit

By Admin

Rapat Kerja terkait Kesiapan dan Pengamanan Harga serta Stok Pangan Jelang Ramadan yang digelar di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
nusakini.com, Di saat isu pangan jarang menjadi sorotan ketika harga stabil, kerja menjaga ketersediaannya justru berlangsung paling senyap. Tahun 2025 hingga awal 2026 menjadi periode itu—masa ketika kebijakan tanpa impor beras diuji oleh cuaca, distribusi, dan lonjakan kebutuhan masyarakat.

Bagi Kementerian Pertanian, pilihan mengandalkan produksi dalam negeri bukan keputusan tanpa risiko. Pemerintah harus memastikan sawah tetap produktif, panen tidak terganggu, dan stok nasional cukup untuk menahan gejolak pasar. Di titik inilah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjalankan perannya: mengawal kebijakan di tengah tekanan yang tidak selalu terlihat.

Menurut pemaparan pemerintah dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Desember 2025 dan Januari 2026 menjadi fase paling krusial. Musim hujan meningkatkan risiko gangguan produksi, sementara permintaan terus bergerak naik. Dalam situasi tersebut, pemerintah memperketat pengamanan produksi dan distribusi pangan strategis.

Pengawalan dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemantauan musim tanam dan panen raya, distribusi dari wilayah surplus ke daerah defisit, hingga penguatan cadangan beras pemerintah. Koordinasi lintas lembaga diperluas, melibatkan Badan Pangan Nasional, pemerintah daerah, BUMN pangan, dan pelaku usaha.

Di tingkat pasar, stabilitas harga menjadi perhatian utama. Pemerintah memantau pergerakan harga harian melalui sistem peringatan dini dan menyiapkan operasi pasar sebagai instrumen pengendali. Langkah ini diambil untuk mencegah kepanikan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Hasil dari rangkaian kebijakan tersebut mulai terlihat pada awal 2026. Data pemerintah menunjukkan cadangan beras pemerintah masih berada di atas 3 juta ton. Dalam rapat bersama DPR, kondisi ini dinilai cukup kuat untuk menopang kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Namun, Amran menegaskan bahwa capaian tersebut bukan garis akhir. Dalam forum resmi, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas pasokan dan perlindungan petani. Produksi yang terjaga, menurutnya, harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sektor pertanian.

Ramadan kali ini menjadi penanda perjalanan panjang itu. Ketika dapur masyarakat tetap menyala dan pasar relatif tenang, ada kerja kebijakan yang dijalankan tanpa hiruk pikuk—kerja yang terus diuji, dan masih harus dijaga. (*)